pendidikan karakter dalam kurikulum

PENERAPAN PENDIDIKAN KARAKTER PADA KURIKULUM PENDIDIKAN

RIKI PERDANA

F03112015

 

ABSTRAK

Masalah dalam jurnal ini adalah penerapan pendidikan karakter dan manfaat pendidikan karakter bagi siswa. Buku-buku ilmiah dan internet menjadi sumber referensi pada jurnal ini. Sampel yang digunakan dalam jurnal ini adalah sekolah-sekolah yang menerapkan pendidikan karakter dan sekolah-sekolah yang tidak menerapkan pendidikan karakter dalam kurikulum pendidikan baik dalam negeri maupun luar negeri. Setelah membaca dan memahami buku mengenai manfaat pendidikan karakter bagi siswa, diperoleh hasil bahwa kemampuan akademik dan karakter siswa yang memperoleh pendidikan karakter meningkat. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa penerapan pendidikan karakter dalam kurikulum pendidikan memberikan dampak positif  bagi siswa.

 

Kata kunci: pendidikan karakter, dampak positif  bagi siswa

 

PENDAHULUAN

Pendidikan merupakan hal yang sangat dibutuhkan untuk membangun dan memajukan suatu negara. Dengan memiliki pendidikan yang baik seseorang akan mampu memajukan bangsanya. Sebagai contoh, jika sekelompok orang memiliki pendidikan dan pemahaman yang baik tentang fisika, maka mereka dapat membangun dan memajukan negaranya dengan teknologi yang mereka ciptakan di bidang fisika.

Dalam upaya membangun dan memajukan negara, sistem pendidikan yang digunakan harus sesuai dengan tujuan dan fungsi negara. Jika sistem yang digunakan tepat serta sesuai maka akan menghasilkan generasi penerus bangsa yang dapat memajukan dan mengembangkan negara dengan baik.

Pendidikan nasional bertujuan untuk mengembangkan masyarakat agar mampu menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Manh Esa, berakhlak mulia, sehat, kreatif mandiri dan menjadi warga negara yang bertanggungjawab serta mampu memajukan bangsa ini. Berdasarkan tujuan tersebut pendidikan memegang peranan penting dalam kehidupan bermasyarakat di Indonesia.

Sistem pendidikan di  Indonesia cenderung berorientasi pada aspek afektif dan mengabaikan aspek kognitif. Sistem seperti ini telah menghasilkan maysarakat yang memiliki tingkat intelektual tinggi, namun memiliki sikap dan moral yang sangat rendah dan terus menerus turun. Sebagai contoh, banyak mahasiswa yang berintelek menjadi anggota dewan, namun ketika telah mendapat jabatan mereka melakukan tindakan korupsi. Tawuran antara sekolah berprestasi SMA 6 dan SMA 70 Jakarta membuktikan bahwa aspek kognitif telah diabaikan, meskipun kedua sekolah tersebut memiliki berbagai prestasi di bidang akademik.

Secara umum tingkat kemerosotan moral terjadi pada siswa di sekolah menengah atas. Hal itu terjadi karena di usia tersebut mereka memiliki rasa ingin tahu yang sangat besar, senang mencoba-coba, berani, serta penuh semangat namun tidak terarah dengan baik. Moral yang telah merosot ditandai dengan berbagai perbuatan buruk yang mereka lakukan seperti merokok, meminum minuman keras, seks bebas bahkan menggunakan narkoba. Salah satu contoh adalah sekelompok siswa-siswi SMA di daerah Yogyakarta yang terbukti menggunakan miras dan narkoba yang kemudian mereka tuntaskan dengan melakukan seks bebas.

Terdapat suatu upaya yang dapat dilakukan untuk menanggulangi kemerosotan moral dan sikap masyarakat di masa yang akan datang. Upaya tersebut adalah dengan melaksanakan program pendidikan karakter. Pendidikan karakter diharapkan mampu memperbaiki moral dan sikap masyarakat serta mampu memajukan bangsa ini. Dengan memasukkan pendidikan karakter ke dalam kurikulum pendidikan, sistem pendidikan akan menjadi seimbang demi meningkatkan mutu masyarakat di bidang intelektual dan perkembangan moral masyarakat.

SEJARAH PENDIDIKAN KARAKTER

Pencetus pendidikan karakter yang menekankan dimensi etis-spiritual dalam proses pembentukan pribadi ialah FW Foerster (1869-1966) seorang ahli pendidikan dari Jerman. Pendidikan karakter merupakan reaksi atas ilmu natural dari ahli pendidikan Rousseauian dan instrumentalisme dari Deweyan.

Polemik anti-naturalis di Eropa awal abad ke-19 merupakan gerakan pembebasan dari determinisme natural menuju dimensi spiritual, bergerak dari formasi personal dengan pendekatan psiko-sosial menuju cita-cita humanisme yang lebih tinggi. Pendidikan karakter merupakan sebuah usaha untuk menghidupkan kembali pedagogi ideal-spiritual yang sempat hilang diterjang gelombang positivisme yang dicetuskan Comte.

 

PENGERTIAN PENDIDIKAN KARAKTER

Pendidikan adalah suatu upaya yang dilakukan seseorang atau sekelompok orang untuk memperbaiki diri baik dari segi akademik maupun non akademik. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, pendidikan adalah proses perubahan sikap dan tata laku sesorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan. Berdasarkan UU RI Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi diri untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yand diperlukan baik bagi diri sendiri, masyarakat maupun bangsa.

Karakter adalah nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya, dan adat istiadat.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, karakter berarti sifat-sifat kejiwaan, akhlak, atau budi pekerti. Karakter dapat diartikan sebagai tabiat yaitu perangai atau perbuatan yang selalu dilakukan dan juga berhubungan dengan Tuhan. Chrisiana (2005) mengatakan bahwa, “character determines somone’s private thoughts and someone’s action done. Good character is the inward motivation to do what is right, according to the highest standard of behaviorin every situation”. Dalam konteks ini, karakter dapat diartikan sebagai identitas diri seseorang. Suyanto (2009) menyatakan, “karakter adalah cara berpikir dan berprilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekerja sama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa, maupun negara”. Karakter merupakan sesuatu yang berkaitan dengan kebiasaan hidup individu yang bersifat menetap dan cenderung positif (Pritchard,1988: 467).

Dalam perkembangan ilmu pengetahuan saat ini terdapat dua teori mengenai kemunculan karakter. Teori pertama menyatakan bahwa karakter seperti gen, yang telah ada sejak lahir contohnya warna rambut dan golongan darah. Jika seseorang memiliki sifat pemarah, berarti orang tersebut sudah memiliki sifat pemarah sejak dilahirkan. Teori kedua menyatakan bahwa karakter seseorang dipengaruhi oleh lingkungan. Jika ia hidup di lingkungan yang baik, maka ia juga memiliki karakter yang baik, sebaliknya jika hidup di lingkungan buruk maka akan terbentuk karakter yang buruk pula.

Pendidikan karakter juga memiliki beberapa definisi yang telah dikemukakan oleh para ahli. Dr. Ratna Megawangi (2007) mengatakan bahwa pendidikan karakter adalah untuk mengukir akhlak melalui proses mengetahui kebaikan, mencintai kebaikan, dan berprilaku baik. Yakni, suatu proses pendidikan yang melibatkan aspek kognitif, emosi, dan fisik, sehingga akhlak mulia bisa terukir menjadi kebiasaan pikiran, hati dan tangan. Menurut Thomas Lickona (1991), pendidikan karakter adalah pendidikan untuk membentuk kepribadian melalui pendidikan budi pekerti, yang hasilnya terlihat dalam tindakan nyata seseorang, yaitu tingkah laku yang baik, jujur bertanggung jawab, menghormati hak orang lain, kerja keras, dan sebagainya.

Pendidikan karakter harus diterapkan sejak manusia lahir hingga meninggal. Dengan membiasakan hal-hal yang baik dan benar dalam kehidupan sehari-hari sejak masih kecil akan berdampak pada kebiasaan hidup dengan baik hingga akhir hayat. Bahkan bayi yang baru lahir, apabila mendapat lingkungan yang lembut dari orangtuanya maka ia juga akan belajar berprilaku lembut pula. Ketika mendegar panggilan lembut dari orangtuanya seperti ibu, ayah, mama, papa atau hal lain mereka juga belajar menyebut hal itu pula. Ketika seorang bayi yang berkembang dalam lingkungan yang kasar dan tumbuh hingga dewasa, ia cenderung juga akan memiliki sikap yang kasar, menyebut kata-kata kotor, durhaka, mudah melakukan tindakan kriminal dan hal buruk lain. Hal itulah yang menjadi alasan mengapa pendidikan karakter harus diterapkan sejak dini.

 

ASPEK KOGNITIF YANG DIABAIKAN

Sistem pendidikan di Indonesia masih mementingkan kecerdasan yang bersifat afektif dan mengabaikan kecerdasan yang bersifat kognitif. Hal itu telah dibuktikan dengan kesibukan para pelajar dengan berbagai ujian, mulai dari ujian mid semester, ujian akhir, ujian sekolah dan ujian nasional. Selain itu, mereka juga disibukkan dengan tugas-tugas sekolah dan bimbingan belajar di luar sekolah. Kesibukan dan tugas yang mereka miliki cenderung tidak relevan dengan kehidupan sehari-hari sehingga tidak memberikan pengaruh yang baik dalam pembentukan karakter siswa.

Aspek kognitif dalam pendidikan yang terus diabaikan sangat mempengaruhi sikap dan moral masyarakat. Pelajar yang lebih mementingkan nilai dibandingkan sikap sering menghalalkan segala cara untuk memperoleh nilai tersebut. Mereka dapat bebas mencontek saat ujian, bekerjasama dan lain-lain. Hal ini juga didukung oleh oknum guru dan pegawai sekolah yang mendukung perbuatan mereka. Sebagai contoh, pada saat pelaksanaan Ujian Nasional, seorang Kepala sekolah SMA di Pontianak dengan sengaja menyuruh perserta ujian untuk melakukan kecurangan saat ujian. Perbuatan demikian semakin menunjukkan moral bangsa yang telah merosot akibat aspek kognitif yang terus diabaikan.

Pendidikan karakter yang dimasukkan ke dalam kurikulum pendidikan dapat mengubah tatanan sistem pendidikan itu sendiri. Sistem yang semula hanya berfokus pada aspek afektif dan menghalalkan segala cara dalam memperoleh hasil akan mengalami perubahan. Aspek kognitif berupa sikap, moral, akhlak, dan budi pekerti menjadi sangat diperhatikan. Oknum guru dan pegawai sekolah mulai beradaptasi dan segera membenahi diri sendiri dan sistem di sekolah mereka, agar menghasilkan generasi penerus bangsa yang baik. Mereka harus menjadi teladan yang baik yang menopang keberhasilan pendidikan karakter ini dalam sistem pendidikan.

 

DUKUNGAN MASYARAKAT TERHADAP PENDIDIKAN KARAKTER

Pendidikan karakter yang mulai diterapkan oleh pemerintah pada tahun 2013 ini mendapat banyak dukungan dari masyarkat. Dukungan tersebut berasal dari berbagai golongan, mulai dari orang tua, organisasi kemasyarakatan, mahasiswa, dan pelajar itu sendiri. Mereka menganggap bahwa sikap dan moral harus di utamakan terlebih dahulu dibandingkan nilai ujian saja.

Kepedulian masyarakat terhadap pendidikan karakter juga menjadi bagian dari kepedulian pemerintah. Hal itu dibuktikan dengan berbagai upaya yang telah dilakukan sebagai bentuk pengembangan pendidikan karakter di unit Kementrian Pendidikan Nasional. Upaya tersebut menjadi salah satu program unggulan pemerintah untuk lima tahun mendatang yang mendapat dukungan penuh masyarakat. Peran masyarakat dalam mengawasi aktivitas kalangan remaja di lingkungan mereka menjadi bukti bentuk dukungan mereka terhadap program pemerintah. Seperti melaporkan remaja yang ketahuan minum minuman keras dan menggunakan narkoba.  Oleh karena itulah, kepedulian masyarakat juga menjadi bagian dari kepedulian pemerintah.

 

KONSEP DAN PENERAPAN PENDIDIKAN KARAKTER

Pendidikan karakter yang diterapkan di sekolah harus berlandaskan pada nilai-nilai karakter dasar, kemudian dikembangkan menjadi nilai-nilai yang lebih banyak atau lebih tinggi (bersifat tidak absolut atau bersifat relatif) sesuai dengan kebutuhan, kondisi, dan lingkungan sekolah itu sendiri.

Dalam pendidikan karakter, semua komponen (pemangku pendidikan) harus dilibatkan, termasuk komponen-komponen pendidikan itu sendiri,  yaitu isi kurikulum, proses pembelajaran dan penilaian, penanganan atau pengelolaan mata pelajaran, pengelolaan sekolah, pelaksanaan aktivitas atau kegiatan ekstrakurikuler, pemberdayaan sarana prasarana, pembiayaan, dan etos kerja seluruh warga sekolah/lingkungan. Selain itu, pendidikan karakter diartikan sebagai prilaku warga sekolah yang berkarakter ketika menjalankan pendidikan karakter ini.

Dalam menyampaiakan materi pembelajaran guru harus memahami terlebih dahulu mengenai pendidikan karakter. Setelah memahami dengan baik, mereka akan dapat memberi contoh terdepan dalam pendidikan karakter. Ketika sekolah mulai menerapkan dan melaksanakan nilai-nilai atau karakter tertentu pada siswa, maka setiap nilai tersebut harus senantiasa disampaikan oleh guru yang melalui pembelajaran langsung atau disatukan ke dalam setiap mata pelajaran. Sebagai contoh, seorang guru  biologi yang menyampaikan materi asal usul makhluk hidup, maka ia dapat menyebutkan asal usul manusia dari Adam dan menyebutkan keberadaan Tuhan. Dengan demikian pendidikan karakter akan berjalan beriringan dengan pendidikan umum yang lain.

Materi pelajaran yang diberikan kepada siswa harus sesuai dengan tujuan dari pendidikan karakter. Hal ini dapat dilakukan dengan menambah waktu pembelajaran pada pelajaran pendidikan agama dan pendidikan kewarganeagaraan. Selain itu, materi yang bersifat alamiah seperti fisika, kimia, dan biologi juga dapat disisipkan pendidikan karakter ketika pembelajaran. Seperti memberikan sebuah contoh kerja keras yang dilakukan Thomas Alfa Edison dalam menemukan bola pijar atau lampu.

Seorang guru harus kreatif dan inovatif dalam menyampaiakan materi pembelajaran. Hal ini akan membuat siswa lebih senang dalam belajar karena mendapat suasana belajar yang sesuai dan menyenangkan. Para siswa yang selama ini bosan dalam belajar akan merubah paradigma mereka ketika belajar dengan kerativitas yang diberikan oleh guru.

Nilai-nilai karakter yang disampaikan oleh guru kepada para siswa juga harus diterapkan secara teratur dan berkelanjutan oleh semua warga sekolah. Mulai dari petugas keamanan, penjaga parkir, petugas kebersihan, karyawan administrasi, hingga kepala sekolah. Jika telah diterapkan oleh semua warga sekolah dengan baik, maka pendidikan karakter yang dilakukan akan menunjukkan hasil yang cukup baik.

Berikut ini adalah nilai-nilai karakter dasar dan pengertian nilai-nilai tersebut:

No

Nilai Karakter

Pengertian

1

Religius Sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama  yang dianut, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, dan hidup rukun dengan pemeluk agama lain.

2

Jujur Perilaku yang berlandaskan pada upaya seseorang untuk  menjadikan dirinya sebagai orang yang dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan perbuatan.

3

Toleransi Sikap dan tindakan seseorang untuk menghargai perbedaan dengan  orang lain dalam hal  agama, suku, etnis, pendapat, sikap, dan perbuatan.

4

Disiplin Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan

patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan.

5

Kerja keras Perilaku yang menunjukkan upaya sungguh-sungguh dalam mengatasi berbagai hambatan belajar dan tugas, serta menyelesaikan tugas dengan baik.

6

Kreatif Berpikir untuk menghasilkan suatu cara yang baru dan melakukan sesuatu demi mendapatkan hasil yang baru dari sesuatu yang telah dimiliki

7

Mandiri Sikap dan perilaku  sesorang yang tidak mudah bergantung pada orang lain dalam menyelesaikan masalah

8

Demokratis Cara berpikir dan bertindak dengan menilai kesamaan hak dan kewajiban yang dimiliki diri sendiri dan orang lain.

9

Rasa Inging Tahu Sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui lebih mendalam mengenai sesuatu yang dipelajari, dilihat, dan didengar.

10

Semangat Kebangsaan Cara berpikir, bertindak, dan berwawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompok.

11

Cinta Tanah Air Cara berfikir, bersikap, dan berbuat yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan  yang tinggi terhadap bahasa,  lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi, dan politik bangsa.

12

Menghargai Prestasi Sikap dan tindakan yang mendorong seseorang untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui serta menghormati keberhasilan orang lain.

13

Bersahabat/komunikatif Tindakan yang memperlihatkan rasa senang berbicara, bergaul, dan bekerja sama dengan orang lain.

14

Cinta Damai Sikap, perkataan, dan tindakan sesorang yang menyebabkan orang lain merasa senang dan aman atas keberadaan orang tersebut.

15

Gemar Membaca Kebiasaan sesorang dalam menyediakan waktu untuk membaca berbagai bacaan yang memberikan dampak positif bagi hidupnya.

16

Peduli Lingkungan Sikap dan tindakan seseorang yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alam di sekitarnya, dan mengembangkan berbagai upaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi

17

Peduli Sosial Sikap dan tindakan sesorang yang selalu ingin memberi bantuan kepada orang lain dan masyarakat yang membutuhkan.

18

Tanggungjawab Sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajiban yang harus dilakukan, terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan, negara dan Tuhan Yang Maha Esa.

 

Penataan lingkungan dan kegiatan-kegiatan disekolah dapat menguatkan nilai-nilai karakter yang mulai diterapkan. Hal tersebut dapat dilakukan dengan membuat spanduk yang berisi dukungan agar terbentuk suasana kehidupan sekolah yang berakhlak yang baik. Kegiatan ekstrakurikuler seperti futsal, basket, osis, dan kegiatan lain dapat terus menguatkan nilai kerja sama, saling menyayangi dan menghargai antar sesama siswa. Dengan demikian pendidikan karakter akan terus berlangsung dengan nilai-nilai karakter yang terus menguat.

Peran orang tua, keluarga dan masyarakat dan sekolah sangat menentukan pembentukan pendidikan karakter siswa. Keluarga merupakan media utama dan pertama yang memberikan pengajaran mengenai tingkah laku dan perbuatan. Dalam kehidupan bermasyarakat, siswa SMA juga sering dilibatkan dalam kegiatan-kegiatan sosial masyarakat seperti kerja bakti dan penggalangan dana. Masyarakat juga menjadi kontrol bagi para remaja dalam mengembangkan karakter yang mereka miliki. Ketika mereka melakukan kesalahan, mereka juga akan mendapat hukuman dari masyarakat namun jika berbuat baik akan diberikan penghargaan dari masyarakat. Oleh karena itu, pihak sekolah harus sering berkomunikasi dan berinteraksi dengan keluarga dan masyarakat dalam membimbing serta mengembangkan karakter siswa.

Pelaksanaan pendidikan karakter harus terus dibiasakan. Pembiasaan tersebut dapat dilakukan dengan banyak cara dan menyangkut banyak hal seperti disiplin, etika berpakaian dan etika pergaulan baik perlakuan siswa terhadap kepala sekolah, guru, siswa lain, maupun karyawan. Pembiasaan yang dilakukan oleh kepala sekolah, guru, siswa dan karyawan dalam lingkungan sekolah merupakan cara yang strategis dalam melaksananakan pendidikan karakter di sekolah.

Pendidikan karakter bersumber dari karakter dasar manusia yang merupakan nilai moral dan bersumber dari agama. Menurut beberapa ahli psikolog, beberapa nilai tersebut adalah cinta kepada Tuhan dan ciptaan-Nya, tanggungjawab, jujur, hormat, sopan, kasih sayang, peduli, percaya diri, pantang menyerah, baik, toleransi, cinta damai dan persatuan.

Kebanyakan orang menginginkan pendidikan karakter diterapkan pada lembaga pendidikan formal atau sekolah. Hal ini karena sekolah merupakan wadah pembinaan generasi muda yang diharapkan mampu meningkatkan peran dan membentuk karakter generasi tersebut melalui peningkatan intensitas dan kualitas pendidikan karakter.

Beberapa pakar pendidikan tidak sependapat mengenai peningkatan pendidikan karakter melalui jalur pendidikan formal. Sebagian pakar menyarankan agar mencontoh negara barat yang menerapkan pendidikan karakter melalui pendekatan moral kognitif, analisis dan nilai, serta pendekatan klasifikasi nilai. Namun sebagian lain menyarankan menggunakan pendekatan tradisional yaitu melalui penanaman nilai-nilai sosial tertentu dalam diri siswa.

Pendapat yang sering digunakan dan merupakan cara yang terbaik untuk melaksanakan pendidikan karakter adalah melalui pendekatan komprehensif dan holistik. Pendekatan ini meliputi dimensi kognitif, emosional, dan prilaku serta melibatkan dan mengintegrasikan hal-hal tersebut ke dalam semua aspek kehidupan di sekolah. Pendekatan ini juga dikatakan sebagai suatu reformasi yang menyeluruh dalam lingkungan sekolah.

Dalam melaksanakan pendidikan karakter dengan pendekatan komprehensif terdapat 11 poin yang harus diperhatikan, yaitu:

  1. Mengembangkan sikap peduli siswa SMA di dalam dan di luar kelas;
  2. Guru berperan sebagai pembimbing (caregiver), model, dan mentor;
  3. Menciptakan komunitas kelas yang peduli;
  4. Memberlakukan ketegasan dan kedisiplinan;
  5. Menciptakan lingkungan kelas yang demokratis;
  6. Mengajarkan karakter melalui kurikulum;
  7. Memberlakukan pembelajaran kooperatif;
  8. Mendorong dilakukannya refleksi moral;
  9. Mengajarkan cara-cara menyelesaikan konflik;
  10. Menjadikan orang tua/wali siswa dan masyarakat sebagai patner dalam

pendidikan karakter;

  1. Menciptakan budaya karakter yang baik di sekolah.

 

MANFAAT PENDIDIKAN KARAKTER

Pendidikan karakter merupakan suatu upaya untuk mengatasi moral masyarakat yang terus menurun, terutama para pelajar SMA. Dalam hal ini, pendidikan karakter dapat ditunjukkan oleh seorang guru di sekolah. Mereka harus memperhatikan perkembangan akademik dan moral siswa dengan memberikan pendidikan karakter dengan baik seperti melarang mencontek demi nilai kejujuran. Dalam bertingkah laku, guru juga harus menjadi yang terdepan memberikan contoh bertingkah laku baik dalam kehidupan sehari-hari.

Pendidikan karakter bertujuan untuk meningkatkan mutu penyelenggaraan dan hasil pendidikan di sekolah yang mengarah pada pencapaian pembentukan karakter dan akhlak mulia siswa secara utuh, terpadu, dan seimbang. Melalui pendidikan karakter diharapkan siswa mampu secara mandiri meningkatkan dan menggunakan pengetahuannya, mengkaji dan menginternalisasi serta mempersonalisasi nilai-nilai karakter dan akhlak mulia sehingga terwujud dalam perilaku sehari-hari. Menurut Lickona terdapat tujuh alasan pendidikan karakter itu menjadi sangat dibutuhkan, yaitu

  1. Pendidikan karakter merupakan cara terbaik untuk menjamin anak-anak (siswa) memiliki kepribadian yang baik dalam kehidupannya
  2. Pendidikan karakter merupakan cara untuk meningkatkan prestasi akademik
  3. Sebagian siswa tidak dapat membentuk karakter yang kuat bagi dirinya di

tempat lain

  1. Pendidikan karakter mempersiapkan siswa untuk menghormati pihak atau orang lain dan dapat hidup dalam masyarakat yang beragam
  2.  Pendidikan karakter mencegah masalah yang berkaitan dengan problem moral-sosial,

seperti ketidaksopanan, ketidakjujuran, kekerasan, pelecehan seksual, dan etos kerja  (belajar) yang rendah;

  1. Merupakan persiapan terbaik untuk menyongsong perilaku di tempat

kerja

  1. Mengajarkan nilai-nilai budaya merupakan bagian dari kerja peradaban.

Manfaat pendidikan karakter juga telah disebutkan dalam sebuah buletin yang diterbitkan oleh Character Education Partnership yang berjudul “Character Educator”. Dalam buletin tersebut diuraikan hasil studi Dr. Marvin Berkowitz dari University of Missouri mengenai peningkatan motivasi siswa dalam meraih prestasi akademik pada sekolah-sekolah yang menerapkan pendidikan karakter. Hasil dari penelitian tersebut adalah prilaku negatif siswa yang dapat menghambat keberhasilan akademik menurun.

Terdapat beberapa faktor yang menyebabkan kegagalan siswa dalam belajar. Hal itu juga telah dibuktikan oleh beberapa para ahli. Faktor-faktor yang menyebabkan kegagalan siswa dalam belajar tidak hanya terletak pada kecerdasan otak, tetapi pada karakter yaitu rasa percaya diri, kemampuan bekerja sama, kemampuan bergaul, kemampuan berkonsentrasi, rasa empati, dan kemampuan berkomunikasi (Zins, 2001)

Keberhasilan siswa juga sangat dipengaruhi oleh kemampuan siswa tersebut dalam mengontrol emosi. Hal itu sesuai dengan pendapat Daniel Goleman yang menyatakan bahwa,

Keberhasilan seseorang di masyarakat, ternyata 80 % dipengaruhi oleh kecerdasan emosi, dan hanya 20 % ditentukan oleh kecerdasan otak (IQ). Anak-anak yang mempunyai masalah dalam kecerdasan emosinya, akan mengalami kesulitan belajar, bergaul dan tidak dapat mengontrol emosi. Anak-anak yang bermasalah ini sudah dapat dilihat sejak usia pra-sekolah, dan kalau tidak ditangani akan terbawa sampai usia dewasa. Sebaliknya para remaja yang berkarakter akan terhindar dari masalah-masalah umum yang dihadapi oleh remaja seperti kenakalan, tawuran, narkoba, miras, perilaku seks bebas, dan sebagainya (Daniel Goleman, 2002).

 

HUBUNGAN ANTARA PENDIDIKAN KARAKTER DENGAN PENDIDIKAN FISIKA

Fisika merupakan salah satu cabang ilmu alam yang mempelajari gejala alam yang terjadi. Gejala alam yang dipelajari dalam ilmu fisika adalah proses penglihatan, radiasi matahari, gelombang bunyi, gaya gravitasi, energi dan gejala-gejala alam lain di dunia ini. Gejala alam yang terbentuk merupakan proses yang sangat kompleks, dan terkadang masih ada gejala alam yang belum dapat dibuktikan oleh para peneliti. Seperti pada “Big Bang Theory”, waktu pembentukan materi di alam semesta hingga sekarang atau setelah ledakan sudah dapat ditentukan, namun waktu saat ledakan terjadi hingga mulai terbentuk materi masih belum dapat ditentukan. Oleh karena itu, pendidikan karakter sangat berperan dalam menjaga kestabilan pemikiran seorang peserta didik, dalam hal ini siswa-siswa SMA yang baru mendapatkan sedikit pembelajaran dalam fisika.

Pendidikan karakter harus selalu dihubungkan dengan pendidikan fisika. Hal ini agar terbentuk sikap positif terhadap fisika dengan menyadari keteraturan dan keindahan alam serta mengagungkan kebesaran Tuhan Yang Maha Esa. Terdapat beberapa Ilmuwan yang menjadi Ateis atau tidak mempercayai keberadaan Tuhan karena mempelajari fisika secara mendalam dan menyeluruh namun tidak diimbangi dengan pendidikan karakter  berupa pendidikan keagaman yang baik.

Salah satu contoh ilmuwan yang menjadi ateis adalah Isaac Newton. Beliau adalah ilmuwan fisika yang menemukan teori gaya gravitasi. Dalam teorinya beliau mengatakan bahwa semua yang terjadi di alam semesta dapat stabil karena terdapat gaya gravitasi antar materi. Dengan teori tersebut beliau menyimpulkan tidak ada keberadaan Tuhan dalam alam semesta ini. Jika hal ini terus dibiarkan, maka ilmuwan yang kehilangan akal dan melupakan keberadaan Tuhan akan terus bertambah. Oleh karena itulah, pendidikan karakter sangat dibutuhkan dalam fisika.

Dalam pendidikan karakter, siswa SMA juga diberikan pembelajaran mengenai sikap-sikap ilmiah seperti jujur, objektif, terbuka, ulet, kritis, dan dapat bekerjasama dengan orang lain. Sikap-sikap tersebut sangat dibutuhkan sebagai seorang fisikawan. Jika ahli fisika tidak bersikap jujur dan objektif, maka kebenaran dari ilmu yang disampaikan tidak dapat diterima dan dapat membahayakan kehidupan pada masa yang akan datang. Kerja sama, ulet, dan kritis telah dibuktikan oleh Wright bersaudara dalam menciptakan pesawat terbang pertama yang dikendarai oleh manusia. Dengan demikian pendidikan karakter harus dicontoh oleh siswa SMA karena memiliki sikap-sikap ilmiah yang sangat dibutuhkan.

Konsep pembelajaran fisika bagi siswa SMA tidak lepas dari berbagai macam eksperimen, masalah, instrumen percobaan dan hal-hal ilmiah lain. Eksperimen tersebut harus dilakukan dengan metode yang benar dan harus didukung dengan sikap yang baik pula. Jika metode yang digunakan sudah baik, namun dilaksanakan dengan sikap yang tidak benar, maka akan membahayakan siswa itu sendiri. Oleh karena itu, peran pendidikan karakter sangat dibutuhkan untuk membentuk prilaku yang baik bagi para pelajar SMA.

Dengan mempelajari fisika, siswa memiliki kemampuan untuk mengembangkan pengetahuan dan teknologi yang ada pada saat ini. Hal itu karena hampir semua teknologi saat ini menggunakan konsep-konsep dalam fisika. Sebagai contoh adalah pemanfaatan sumber energi matahari, air, angin dan nuklir. Tidak menutup kemungkinan kendaraan yang kita gunakan saat ini akan menggunakan air sebagai bahan bakar menggantikan sumber energi minyak bumi.

Perkembangan pengetahuan yang tidak diimbangi dengan akhlak dan budi pekerti yang baik akan mengancam ketentraman dunia. Teknologi senjata nuklir yang saat ini dikembangkan oleh beberapa negara di dunia ini telah menjadi contoh bahwa pengetahuan telah berkembang pesat, namun juga menjadi ancaman apabila senjata tersebut disalahgunakan oleh orang yang tidak bertanggungjawab. Oleh karena itu, pendidikan karakter menjadi media untuk menghindari kemunculan orang-orang yang tidak bertanggungjawab tersebut.

Pendidikan karakter akan menjadi sangat efektif apabila diberikan secara menyeluruh bagi siswa SMA. Pada usia ini keinginan mereka untuk mengembangkan pengetahuan sangat besar apalagi bagi mereka yang akan melanjutukan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

 

SIMPULAN

  1. Pendidikan karakter adalah nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya, dan adat istiadat
  2. Pencetus pendidikan karakter adalah FW Foerster (1869-1966) seorang ahli pedagogi  (ahli pendidikan) dari Jerman. Pendidikan karakter diterapkan pertama kali di Benua Eropa, sebagai upaya untuk menghidupkan kembali pedagogi ideal-spiritual yang sempat diabaikan akibat pengaruh ideologi positivisme yang dicetuskan Comte.
  3. Pendidikan karakter harus diterapkan berlandaskan pada nilai-nilai karakter dasar, kemudian dikembangkan menjadi nilai-nilai yang lebih banyak atau lebih tinggi (bersifat tidak absolut atau bersifat relatif) sesuai dengan kebutuhan, kondisi, dan lingkungan sekolah itu sendiri.
  4. Nilai-nilai pendidikan karakter yang harus diterapkan dalam kurikulum pendidikan adalah religius jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, Menghargai Prestasi, Bersahabat/komunikatif, Cinta Damai, Gemar Membaca, Peduli Lingkungan, Peduli Sosial, dan Tanggungjawab.
  5. Pendidikan karakter bertujuan untuk meningkatkan mutu penyelenggaraan dan hasil pendidikan di sekolah yang mengarah pada pencapaian pembentukan karakter dan akhlak mulia peserta didik secara utuh, terpadu, dan seimbang.
  6. Pendidikan karakter yang diterapkan di sekolah harus berlandaskan pada nilai-nilai karakter dasar, kemudian dikembangkan menjadi nilai-nilai yang lebih banyak atau lebih tinggi (bersifat tidak absolut atau bersifat relatif) sesuai dengan kebutuhan, kondisi, dan lingkungan sekolah itu sendiri.
  7. Aspek kognitif dalam pendidikan yang terus diabaikan sangat mempengaruhi sikap dan moral masyarakat. Moral dan sikap yang mereka miliki terus menurun akibat tidak ditananmkan nilai-nilai karakter dengan pondasi yang kuat.
  8. Tanggapan masyarakat terhadap kebijakan pemerintah yang memasukkan pendidikan karakter ke dalam kurikulum pendidikan sangat positif. Mereka menganggap pendidikan karakter merupakan hal yang penting untuk memajukan dan membangun bangsa.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s